Trump Perintahkan Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam

Sebuah kapal IRGC di lepas pantai Bandar Abbas, Iran [Arsip: Nazanin Tabatabaee/WANA melalui Reuters]

Sorotmata – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk “menembak dan membunuh” setiap kapal Iran yang kedapatan memasang ranjau di Selat Hormuz. Pernyataan ini berpotensi mengguncang gencatan senjata rapuh antara kedua negara.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menegaskan tidak boleh ada keraguan dalam menghadapi kapal-kapal kecil Iran yang diduga menebar ranjau. Ia juga menyebut bahwa operasi pembersihan ranjau di jalur strategis tersebut sedang berlangsung dan akan ditingkatkan hingga tiga kali lipat.

Di sisi lain, pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa negara mereka siap mempertahankan diri dan akan merespons setiap serangan dari AS.

Selat Hormuz, yang sebelumnya beroperasi tanpa gangguan sebelum perang, kini menjadi titik utama konflik. Iran menutup jalur tersebut sebagai respons atas operasi militer AS dan Israel, serta mengklaim memiliki hak atas sebagian jalur yang melintasi perairan teritorialnya.

Penutupan ini berdampak besar terhadap pasar energi global. Harga minyak melonjak, memicu tekanan politik terhadap Trump di dalam negeri. Harga bensin di AS kini melampaui 4 dolar per galon (3,8 liter), naik dari sekitar 3 dolar sebelum konflik.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Setelah gencatan senjata dua minggu diberlakukan bulan lalu, Trump tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, meskipun Teheran sempat mengumumkan pembukaan kembali jalur tersebut.

Iran menjadikan pencabutan blokade sebagai syarat utama untuk melanjutkan perundingan. Namun, Washington tetap menjalankan tekanan, termasuk inspeksi kapal tanker Iran di Samudra Hindia serta penyitaan kapal dan pengalihan puluhan kapal lainnya.

Sebagai balasan, Iran juga menahan sejumlah kapal dagang asing di sekitar Selat Hormuz dengan alasan pelanggaran aturan maritim. Situasi ini menciptakan blokade ganda yang berisiko memicu kembali perang terbuka.

Trump juga mengklaim bahwa AS kini memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz dan menyebut jalur tersebut “tertutup rapat”. Ia kembali menuding adanya perpecahan dalam kepemimpinan Iran, meskipun tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut.

Sementara itu, Iran menunjukkan sikap solid. Para pejabat tinggi, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan penolakan terhadap blokade AS dan tetap berkomitmen pada gencatan senjata.

Ketegangan yang terus meningkat di Selat Hormuz menempatkan kawasan ini sebagai pusat perhatian dunia, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas energi dan keamanan global.

Komentar (0)
Belum ada komentar.