Saudi dan Kuwait Izinkan Basis Militer AS, Trump Siap Aktifkan Project Freedom
Sorotmata – Washington, Presiden Donald Trump berencana menjalankan kembali “Project Freedom” untuk membuka Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan. Rencana itu muncul setelah sekutu Teluk menyelesaikan perselisihan rahasia dengan Washington.
Saudi dan Kuwait Buka Akses
Arab Saudi dan Kuwait kembali membuka pangkalan serta wilayah udaranya bagi militer Amerika Serikat. Langkah itu memungkinkan “Project Freedom” berjalan lagi, menurut laporan Wall Street Journal.
Amerika Serikat sebelumnya menghentikan misi itu meski dirancang untuk melindungi kapal-kapal dari serangan Iran.
Negara-negara Teluk sempat menolak penggunaan wilayah mereka untuk operasi tersebut. Trump menghentikan “Project Freedom” pada Selasa lalu, kurang dari 48 jam setelah dimulai. Ia menyebut Pakistan dan “negara-negara lain” meminta penundaan itu.
Pejabat Pentagon memberi sinyal pengawalan kapal bisa dimulai secepatnya pekan ini. Namun, mereka belum mengumumkan jadwal pasti operasi.
Iran Kirim Peringatan
Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak menghidupkan kembali operasi tersebut.
“Mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus tidak akan memberi jawaban berbeda, hanya balasan yang lebih kuat,” tulis Azizi di platform X, Kamis. “Hormati Rezim Maritim baru Iran.”
Iran sebelumnya memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak membantu Amerika Serikat. Ancaman itu memicu kekhawatiran serangan balasan di kawasan.
Selat Hormuz menjadi jalur vital dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintas di kawasan tersebut.
Pembicaraan dengan Saudi
Wall Street Journal melaporkan Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman membahas pencabutan pembatasan. Media itu mengutip pejabat Amerika Serikat dan Saudi.
Pakistan kemudian mengonfirmasi bahwa Arab Saudi termasuk negara yang Washington ajak berkonsultasi.
Keputusan itu membuka jalan bagi Pentagon untuk meningkatkan pengawalan laut dan operasi udara di kawasan Teluk.
Ketegangan di Laut
Amerika Serikat meluncurkan “Project Freedom” pada Senin. Operasi itu sangat bergantung pada pesawat yang ditempatkan di Arab Saudi dan Kuwait. Armada itu bertugas melindungi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Setidaknya dua kapal Amerika berhasil melintas pada hari pertama penuh operasi tersebut. Namun, kapal Iran dan Amerika sempat saling tembak.
Amerika Serikat menenggelamkan enam kapal serang kecil. Insiden itu memicu kekhawatiran perang akan kembali pecah.
Pejabat yang dikutip WSJ menyebut Arab Saudi dan negara Teluk lain khawatir Amerika Serikat tidak mampu melindungi mereka jika perang kembali terjadi.
Iran sebelumnya pernah menyerang negara-negara tersebut sebagai balasan.
Kekhawatiran meningkat setelah Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang kapal tanker dan fasilitas minyak penting mereka di dekat Selat Hormuz awal pekan ini.
Amerika Serikat menilai serangan itu hanya gangguan tingkat rendah dan tidak melanggar gencatan senjata.
Trump Beri Ultimatum
Trump mengatakan ia menghentikan sementara “Project Freedom” karena ada “kemajuan besar menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran.”
Namun, ia kemudian memperingatkan Iran agar kembali ke meja perundingan. Jika tidak, “pemboman akan dimulai.”
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth turut menguatkan pernyataan itu.
“Kami lebih memilih ini menjadi operasi damai, tetapi kami siap sepenuhnya membela rakyat kami, kapal kami, pesawat kami, dan misi ini tanpa ragu,” ujar Hegseth.




