Trump Bertemu Xi Jinping di Beijing, Dunia Soroti Arah Baru Hubungan AS-China

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan setelah pertemuan bilateral di Busan, Korea Selatan pada 30 Oktober 2025 [File: Andrew Harnik/Getty Images]

Sorotmata – Beijing, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu. Ia akan menghadiri pertemuan puncak selama dua hari dengan Presiden China Xi Jinping. Agenda ini menjadi tatap muka pertama keduanya enam bulan setelah kedua negara menghentikan perang dagang.

Pertemuan puncak itu awalnya dijadwalkan berlangsung pada Maret. Namun, perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran membuat kedua pihak menunda agenda tersebut. KTT ini juga hadir saat Trump membutuhkan kemenangan diplomatik. Di dalam negeri, publik semakin tidak puas akibat krisis terbaru di Timur Tengah.

Para pemimpin Uni Eropa pada Februari lalu menyepakati komitmen luas. Mereka ingin memperkuat pasar internal bebas perbatasan di kawasan itu. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat dalam pasokan LNG. Uni Eropa juga ingin mengurangi ketergantungan pada China dalam pasokan mineral tanah jarang.

Mineral itu berperan penting bagi pengembangan teknologi, pertahanan, dan berbagai sektor manufaktur.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan para pemimpin Uni Eropa memiliki rasa urgensi yang sama. Mereka menilai situasi global menuntut langkah cepat.

“Kita harus bergerak lebih cepat. Kita diguncang oleh persaingan, terkadang persaingan tidak adil dan tarif,” kata Macron.

Sementara itu, India, Brasil, dan negara berkembang besar lain dalam kelompok BRICS juga memandang membaiknya hubungan Amerika Serikat dan China sebagai tantangan baru. Kondisi itu dapat menghambat ambisi mereka menjadi kekuatan global.

New Delhi dan Brasilia baru-baru ini memperdalam aliansi strategis. Keduanya sepakat menggandakan perdagangan bilateral menjadi 30 miliar dolar AS pada 2030. Mereka memfokuskan kerja sama itu pada sektor mineral kritis dan logam tanah jarang.

Pengamat dari London School of Economics, Minnich, menilai kesepakatan investasi China di Amerika Serikat bisa mengalihkan modal dan teknologi. Selama ini negara-negara Global South masih membutuhkan sumber daya tersebut.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan China dalam beberapa tahun terakhir banyak menanamkan modal di negara berkembang. Mereka membangun kapasitas manufaktur energi bersih di kawasan tersebut.

Ia juga menilai kolusi antara Amerika Serikat dan China bisa menjadi kabar buruk bagi Eropa. Kawasan itu berada di tengah dan rentan menghadapi tekanan dari kedua kekuatan besar tersebut.

Peneliti senior Gu mengatakan banyak negara memang menginginkan hubungan stabil antara Washington dan Beijing. Namun, Eropa tidak ingin hanya menjadi penerima aturan. Amerika Serikat dan China berpotensi menentukan arah perdagangan, teknologi, pendanaan iklim, tata kelola AI, dan kebijakan industri.

“Kecemasan Eropa bukan hanya soal persaingan, tetapi juga soal tersisih,” ujarnya.

Terkait negara-negara Global South, Gu menegaskan mereka tidak menginginkan dunia yang terbagi ke dalam lingkup pengaruh. Mereka juga menolak sistem yang diatur lewat kesepakatan bilateral dua negara besar.

“Mereka menginginkan pilihan, pendanaan, teknologi, pasar, dan ruang kebijakan. Mereka tidak ingin hanya menjadi wilayah tempat kekuatan besar bersaing,” katanya.

Komentar (0)
Belum ada komentar.