UEA Gagal Ajak Arab Saudi dan Qatar Serang Iran, Hubungan Negara Teluk Memanas
Sorotmata – Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) ternyata sempat mencoba mengajak Arab Saudi dan Qatar ikut menyerang Iran secara bersama-sama di tengah memanasnya konflik kawasan Teluk. Ajakan itu datang langsung dari Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
Namun rencana tersebut gagal terlaksana.
Arab Saudi dan Qatar memilih menolak usulan operasi militer gabungan yang diajukan Abu Dhabi. Kedua negara itu mengambil jalur berbeda meski sama-sama berada dalam tekanan konflik regional yang terus membesar sejak akhir Februari lalu.
Laporan Bloomberg mengungkap, Mohamed bin Zayed melakukan serangkaian panggilan telepon dengan para pemimpin Teluk, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel mulai menggempur Iran pada 28 Februari 2026.
Situasi kawasan saat itu benar-benar panas. Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan ribuan rudal dan drone ke sejumlah titik di kawasan Teluk. Alarm pertahanan udara berbunyi hampir setiap malam di beberapa negara kawasan.
Di tengah situasi itu, UEA ingin negara-negara GCC bergerak dalam satu komando. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Riyadh menolak ikut dalam operasi militer bersama. Qatar juga tidak mendukung rencana tersebut. Sikap itu memperlihatkan hubungan UEA dan Arab Saudi tidak lagi sejalan dalam urusan geopolitik kawasan, terutama soal cara menghadapi Teheran.
Meski begitu, Arab Saudi tetap melancarkan serangan balasan terhadap Iran. Hanya saja, Riyadh menjalankan operasi itu dengan lebih hati-hati dan terukur.
Tak lama setelah operasi berlangsung, Saudi langsung mendukung upaya mediasi yang digerakkan Pakistan untuk mendorong deeskalasi konflik. Riyadh tampaknya tidak ingin perang melebar dan mengganggu stabilitas ekspor minyak mereka.
UEA memilih jalur yang jauh lebih keras.
Menurut laporan Wall Street Journal, Abu Dhabi menyerang Pulau Lavan di Teluk Persia pada awal April lalu. Pulau itu menjadi salah satu titik penting fasilitas energi Iran.
Serangan tersebut memicu kebakaran besar. Asap hitam membumbung selama berjam-jam dan sebagian kapasitas produksi energi di kawasan itu lumpuh.
Bagi UEA, perang dengan Iran bukan cuma soal keamanan, tetapi juga ancaman langsung terhadap ekonomi mereka. Berbeda dengan Arab Saudi yang memiliki jalur pipa minyak ke Laut Merah, UEA sangat bergantung pada jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Jika kawasan itu terganggu, efeknya bisa langsung terasa pada perdagangan, ekspor energi, hingga sektor pariwisata Dubai dan Abu Dhabi yang selama ini menjadi mesin utama ekonomi negara tersebut.
Tak heran jika Abu Dhabi terus menekan Amerika Serikat agar tidak menghentikan operasi militernya terhadap Iran.
UEA bahkan sempat mendorong proposal di PBB agar penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz mendapat pembenaran setelah Iran memperketat kontrol di jalur strategis tersebut.
Nada keras juga datang dari penasihat presiden UEA, Anwar Gargash. Ia secara terbuka mengkritik Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang dianggap terlalu lemah dalam merespons serangan Iran.
Frustrasi Abu Dhabi makin terlihat ketika UEA resmi keluar dari OPEC pada Mei 2026. Langkah itu langsung memicu spekulasi baru soal retaknya hubungan negara-negara Teluk di tengah perang yang belum benar-benar reda.




