Amerika Serikat Hadapi Kekurangan Drone MQ-9 Setelah Rentetan Kehilangan di Timur Tengah
Sorotmata – Washington D.C. Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) menghadapi tantangan serius dalam menjaga ketersediaan armada drone MQ-9 Reaper setelah kehilangan sejumlah unit dalam berbagai konflik di Timur Tengah.
Laporan yang beredar menyebut kelompok poros perlawanan di Yaman, Iran, dan Irak beberapa kali menargetkan drone strategis MQ-9 milik AS. Serangkaian serangan tersebut mengurangi jumlah armada operasional dan memicu kekurangan drone yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Angkatan Udara AS.
Untuk mengatasi masalah itu, Angkatan Udara AS mempercepat pengadaan dan distribusi MQ-9 melalui berbagai program kerja sama dengan mitra internasional. Namun, langkah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan operasional yang terus meningkat.
Di tengah tekanan itu, Angkatan Udara AS menggandeng General Atomics untuk menambah jumlah platform yang siap beroperasi. Kerja sama tersebut memungkinkan militer AS memperoleh beberapa unit MQ-9A Block 5 yang sebelumnya belum beroperasi dan segera memasukkannya ke armada aktif.
MQ-9 Reaper merupakan salah satu drone tempur dan pengintaian utama Amerika Serikat. Selama lebih dari dua dekade, drone ini menjalankan berbagai misi pengawasan, mengumpulkan intelijen, serta mendukung serangan presisi terhadap target darat.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi militer Amerika Serikat untuk mempertahankan kesiapan armada drone di tengah meningkatnya ancaman terhadap pesawat tanpa awak di berbagai kawasan konflik.



