Trump Batalkan Serangan, Memorandum Iran-AS Muncul
Sorotmata – Washington, Sebuah memorandum yang diklaim memuat poin-poin penyelesaian konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai beredar luas di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara. Dokumen itu berisi sejumlah tuntutan dan usulan yang disebut sebagai dasar menuju penghentian konflik secara permanen.
Dalam memorandum tersebut, Iran mengajukan penghentian perang di seluruh front, termasuk di Lebanon. Teheran juga meminta Amerika Serikat dan sekutunya menyiapkan dana pemulihan sedikitnya 300 miliar dolar AS untuk membantu rekonstruksi Iran pascakonflik.
Selain itu, Iran meminta Washington menghentikan campur tangan dalam urusan dalam negerinya. Teheran juga menuntut Amerika Serikat mencabut blokade laut dan menarik pasukan dari wilayah sekitar Iran dalam waktu 30 hari.
Iran selanjutnya mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam kurun waktu 30 hari dengan memenuhi syarat yang ditetapkan Teheran. Negara itu juga meminta Amerika Serikat menghapus sanksi terhadap penjualan minyak Iran agar ekspor energi dapat kembali berjalan normal.
Memorandum tersebut juga memuat rencana perundingan mengenai program nuklir Iran dalam waktu 60 hari setelah kesepakatan awal tercapai. Dalam tahap itu, Amerika Serikat diminta mencairkan aset Iran senilai 24 miliar dolar AS. Sebanyak 12 miliar dolar AS di antaranya harus tersedia saat negosiasi nuklir dimulai.
Menariknya, Iran tidak memasukkan program rudal maupun dukungannya terhadap kelompok sekutu di Timur Tengah ke dalam agenda pembahasan.
Kemunculan memorandum ini bertepatan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran, termasuk operasi terhadap Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Trump mengaku mengambil keputusan itu karena proses negosiasi menunjukkan perkembangan positif dan kesepakatan disebut sudah hampir tercapai.
Namun, pemerintah Iran berulang kali membantah pernyataan tersebut. Teheran menegaskan belum ada kesepakatan final antara kedua negara.
Hingga kini, baik Washington maupun Teheran belum memberikan konfirmasi resmi terkait keaslian memorandum yang beredar. Kedua pihak juga belum menjelaskan status sebenarnya dari proses perundingan yang disebut tengah berlangsung.



