Pulau Buru Jadi Fokus Konservasi Laut, 2.500 Fragmen Karang Siap Ditanam
Sorotmata – Jakarta, Perairan Pulau Buru, Maluku, kembali menjadi perhatian para pegiat lingkungan. Setelah menemukan indikasi kerusakan terumbu karang di sejumlah titik pesisir, Wanadri Women Divers (WWD) meluncurkan program konservasi bertajuk Rediscover Buru Moving Forward yang akan berjalan hingga 2028.
Bagi Pulau Buru, terumbu karang bukan sekadar hamparan ekosistem bawah laut. Karang menjadi rumah bagi berbagai biota laut sekaligus menopang kehidupan nelayan yang menggantungkan penghasilan dari laut. Saat kondisi karang menurun, lingkungan dan masyarakat pesisir sama-sama merasakan dampaknya.
Ketua Dewan Pengurus Wanadri, Tomy Hosni Mubaraq, mengatakan tim Buru Expedition menemukan indikasi penurunan kualitas terumbu karang di beberapa kawasan pesisir. Menurutnya, penurunan kualitas lingkungan laut dan aktivitas manusia yang belum sepenuhnya memperhatikan keberlanjutan ekosistem ikut memperburuk kondisi tersebut.
“Temuan di lapangan menunjukkan perlunya upaya pemulihan yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung,” kata Tomy dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (30/5/2026).
Target Transplantasi 2.500 Fragmen Karang
WWD tidak ingin berhenti pada hasil kajian. Organisasi itu langsung menyusun agenda pemulihan dengan menargetkan transplantasi 2.500 fragmen karang di perairan Desa Jikumerasa dan Desa Hatawano pada 1 hingga 10 Juni 2026.
Tim konservasi akan menanam fragmen-fragmen tersebut di sejumlah titik yang membutuhkan pemulihan. Melalui upaya itu, WWD ingin mempercepat pertumbuhan habitat bawah laut yang menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.
Selain menanam karang, tim ekspedisi akan memetakan kondisi terumbu karang, mendokumentasikan keanekaragaman hayati laut, mengukur kualitas air, serta menelusuri sumber-sumber pencemaran di kawasan pesisir Pulau Buru.
Tim kemudian akan mengolah seluruh hasil pendataan sebagai dasar penyusunan program konservasi lanjutan. Dengan data yang lebih lengkap, mereka dapat menentukan prioritas pemulihan sesuai kebutuhan masing-masing kawasan.
Perempuan Pesisir Ambil Peran
WWD juga mengajak perempuan pesisir ikut terlibat dalam program ini melalui inisiatif bernama IBU KARANG. Program tersebut membuka kesempatan bagi perempuan untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi sekaligus memperkuat kapasitas sosial dan ekonomi komunitas mereka.
Peserta akan mengikuti pelatihan konservasi laut, pendidikan lingkungan, serta penguatan organisasi komunitas. WWD juga membuka peluang bagi peserta untuk memperoleh sertifikasi selam Open Water berstandar internasional.
WWD menilai perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ketika perempuan menguasai pengetahuan dan keterampilan baru, mereka dapat menggerakkan keluarga dan komunitas untuk ikut menjaga lingkungan laut.
“Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga ekosistem pesisir,” ujar Tomy.
Kembangkan Ekowisata Berbasis Masyarakat
Selain memulihkan ekosistem, WWD juga melihat peluang besar pada sektor wisata bahari Pulau Buru. Keindahan bawah laut yang terjaga dapat menarik wisatawan sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat.
Karena itu, WWD memasukkan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat ke dalam agenda program. Melalui pendekatan tersebut, warga dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan yang menjadi aset utama daerah mereka.
WWD menggandeng pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, sektor swasta, dan masyarakat lokal untuk menjalankan program ini. Melalui kolaborasi tersebut, organisasi itu ingin membangun gerakan konservasi yang tumbuh dari masyarakat, mengakar di kawasan pesisir, dan terus berjalan dalam jangka panjang.



