DPRD Jatim Minta Pemda Waspada Hantavirus, Satu Kasus Tercatat di Jawa Timur
Sorotmata – Surabaya, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur meminta pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus setelah Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus seoul virus dalam tiga tahun terakhir, termasuk satu kasus di Jawa Timur.
Sri Wahyuni menilai temuan itu perlu menjadi perhatian serius meski jumlah kasus di Jawa Timur masih relatif terbatas. Ia juga menyoroti tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit tersebut yang mencapai 13 persen.
“Ini harus menjadi alarm kewaspadaan bersama. Jangan sampai masyarakat lengah terhadap ancaman penyakit yang bersumber dari lingkungan dan hewan pengerat,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Waspada Ancaman Hantavirus
Sri Wahyuni meminta pemerintah kabupaten/kota memperkuat edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih serta pengendalian tikus di kawasan permukiman, pasar tradisional, hingga saluran air.
Menurutnya, kelompok pekerja berisiko tinggi seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, hingga pembersih selokan perlu mendapat perhatian khusus melalui sosialisasi dan perlindungan kesehatan kerja.
“Pencegahan paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan. Virus ini berkaitan erat dengan sanitasi dan paparan dari tikus yang terinfeksi,” katanya.
Fasilitas Kesehatan Tingkatkan Deteksi
Ia juga meminta fasilitas kesehatan mempercepat deteksi dini terhadap pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada hantavirus, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan lingkungan rentan terkontaminasi.
Sri Wahyuni menegaskan koordinasi lintas sektor harus diperkuat agar potensi penyebaran penyakit bisa ditekan sejak dini. Menurutnya, pemerintah daerah tidak boleh menunggu lonjakan kasus sebelum mengambil langkah antisipasi.
“Kami mendorong langkah preventif secara masif. Edukasi masyarakat dan pengendalian lingkungan harus diperkuat supaya kasus tidak berkembang,” imbuhnya.
Kemenkes Catat Puluhan Kasus
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus jenis seoul virus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga pasien meninggal dunia.
Pada 2026, Kemenkes menambah lima kasus baru. Kasus terbanyak muncul di DKI Jakarta dan DIY.
Penularan dari Tikus Terkontaminasi
Kemenkes juga menyebut penularan hantavirus bisa terjadi melalui gigitan tikus, paparan urine, saliva, kotoran, hingga debu yang terkontaminasi. Hingga kini, Indonesia belum menemukan penularan antarmanusia.




