Iran Tegaskan Persatuan Nasional, Bantah Klaim Perpecahan oleh Trump

Perempuan-perempuan memegang bendera Iran dan potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam sebuah aksi unjuk rasa yang diselenggarakan oleh negara di Teheran, 17 April [File: Vahid Salemi/AP Photo].

Sorotmata – Teheran, Pemerintah Iran menegaskan bahwa negara mereka tetap solid dan bersatu, menanggapi klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut adanya perpecahan dalam kepemimpinan di Teheran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf kompak membantah tudingan tersebut.

Dalam pernyataan bersama yang juga dirilis Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran melalui platform X, mereka menegaskan:

“Tidak ada radikal atau moderat di Iran. Kami semua adalah Iran dan revolusioner. Dengan persatuan kuat antara rakyat dan pemerintah, serta ketaatan kepada Pemimpin Tertinggi, kami akan membuat agresor menyesali tindakannya.”

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, turut menegaskan bahwa perbedaan politik bukanlah perpecahan.

“Iran bukan negeri yang terbelah, melainkan benteng persatuan. Dalam situasi genting, kami adalah satu bangsa di bawah satu bendera,” ujarnya.

Sorotan pada Pemimpin Tertinggi Baru

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, belum muncul ke publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari.

Pejabat AS menyebut Mojtaba mengalami luka serius, sementara laporan The New York Times menyebut kondisinya “parah namun tetap sadar dan tajam secara mental”.

AS Sebut Ada Konflik Internal, Iran Membantah

Dalam beberapa hari terakhir, Donald Trump terus mengklaim adanya konflik antara kelompok “moderat” dan “garis keras” di Iran, bahkan menyebut negara itu kesulitan menentukan pemimpin.

Namun Iran membantah tegas. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan tidak ada perpecahan antara militer dan pemerintahan sipil.

“Institusi negara tetap berjalan dengan persatuan dan disiplin. Medan perang dan diplomasi adalah dua front yang sepenuhnya terkoordinasi,” ujarnya.

Kebuntuan Diplomasi dan Tekanan Blokade

Hubungan Iran-AS saat ini berada dalam kebuntuan. Pemerintah AS memilih mempertahankan tekanan melalui blokade ekonomi, termasuk terhadap pelabuhan Iran.

Trump menyatakan kesepakatan hanya akan terjadi jika menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya.

Sementara itu, Iran menilai tertundanya perundingan—yang sebelumnya direncanakan di Pakistan—disebabkan oleh blokade tersebut.

Ketegangan Militer Meningkat

Situasi di lapangan tetap rapuh. Sistem pertahanan udara sempat diaktifkan di Teheran, meski belum ada konfirmasi serangan.

Trump juga memperingatkan akan tindakan militer terhadap kapal Iran di Selat Hormuz, yang berpotensi memicu eskalasi baru.

Ketidakpastian ini turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, seiring tekanan di kawasan Teluk.

Israel Siap Kembali Berperang

Di tengah situasi tersebut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan negaranya siap melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

“Kami siap menyerang. Target sudah ditentukan, tinggal menunggu keputusan politik,” ujarnya.

Kesimpulan

Pernyataan saling bertolak belakang antara Washington dan Teheran mencerminkan ketegangan yang belum mereda.
Di satu sisi, AS menilai Iran tengah terpecah. Di sisi lain, Iran justru menegaskan soliditas penuh menjadikan situasi geopolitik semakin sulit diprediksi.

Komentar (0)
Belum ada komentar.