Gaji Rp1 Juta Tak Bikin Betah, 18 Guru Honorer Kulon Progo Mundur dan Alih Profesi
Sorotmata – Kulon Progo, Gaji sekitar Rp1 juta per bulan dinilai tak lagi cukup membuat bertahan. Sebanyak 18 tenaga pendidik non-ASN di Kulon Progo dilaporkan memilih mundur dari sekolah dan beralih profesi.
Mereka berstatus Jasa Layanan Orang Perorangan (JLOP). Sejumlah nama disebut kini menempuh jalur pekerjaan baru, mulai dari pegawai bank, perangkat kalurahan, hingga membuka usaha mandiri.
Ada pula guru honorer yang dikabarkan pindah mengajar ke Sekolah Rakyat. Sementara lainnya disebut bergabung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kulon Progo, Nur Wahyudi, membenarkan adanya pengunduran diri tersebut. Menurutnya, para tenaga pendidik itu memilih pekerjaan yang dianggap lebih baik.
“Mereka dapat pekerjaan yang barangkali menurutnya lebih baik,” ujar Wahyudi, Kamis (7/5/2026).
Di sisi lain, Kulon Progo masih membutuhkan banyak tenaga pengajar formal. Kebutuhan paling besar disebut berada di jenjang SMP, terutama untuk guru olahraga atau pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes).
Saat ini, masih ada 305 tenaga JLOP yang bekerja di sekolah-sekolah Kulon Progo. Mereka mengisi berbagai posisi seperti guru honorer, operator sekolah, hingga tenaga kebersihan.
Upah Minim Jadi Sorotan
Anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Fajar Gegana, menyesalkan mundurnya 18 guru honorer tersebut. Ia menilai kondisi ini menjadi preseden buruk bagi dunia kerja sektor pendidikan.
Menurut Fajar, upah sekitar Rp1 juta per bulan masih jauh dari kata sejahtera. Karena itu, ia meminta adanya evaluasi menyeluruh dari dinas terkait.
“Kami sangat menyayangkan hal ini,” kata Fajar, dikutip dari ANTARA News, Kamis (7/5/2026).
Ia juga mendorong Dikpora Kulon Progo segera mencari solusi konkret. Bahkan, Fajar menyarankan para pendidik dapat membuka lembaga bimbingan belajar atau les privat sebagai alternatif, dibanding berpindah ke sektor lain yang jauh dari dunia pendidikan.
Sementara itu, Sekretaris Dikpora Kulon Progo, Nur Hadiyanto, menegaskan perpindahan profesi tersebut merupakan keputusan pribadi masing-masing. Pihak dinas disebut tidak akan mengintervensi keputusan 18 guru honorer yang memilih mundur.




