Serangan Udara Israel Hantam Pusat Beirut, Puluhan Tewas Meski Gencatan Senjata Diumumkan
Sorotmata – Israel kembali mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, dengan melancarkan serangan udara yang menghantam kawasan padat penduduk di pusat kota. Serangan ini terjadi tanpa peringatan, hanya beberapa jam setelah pihak terkait mengumumkan gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Korban Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan puluhan orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Petugas memperkirakan jumlah korban akan terus meningkat karena banyak warga masih tertimbun reruntuhan bangunan. Tim penyelamat terus bekerja dalam kondisi berbahaya untuk menemukan korban selamat.
Serangan Besar dalam Waktu Singkat
Militer Israel menyebut operasi ini sebagai salah satu serangan terbesar dalam konflik yang sedang berlangsung. Mereka menyerang lebih dari 100 target yang diklaim terkait dengan Hizbullah dalam waktu sekitar 10 menit, mencakup Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa. Israel menargetkan peluncur roket, pusat komando, dan fasilitas intelijen.
Klaim Dibantah Warga
Warga setempat dan sejumlah pejabat Lebanon membantah klaim tersebut. Mereka menegaskan bahwa serangan menghantam area sipil, termasuk pusat bisnis dan permukiman. Serangan di kawasan komersial yang ramai memicu kepanikan massal, saat warga berlarian menyelamatkan diri di tengah suara sirene dan puing-puing yang beterbangan.
Kerusakan Meluas di Beirut
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa serangan menghantam sedikitnya lima lingkungan di distrik pusat dan pesisir Beirut. Serangan tersebut merusak banyak bangunan dan melumpuhkan sebagian infrastruktur kota.
Risiko Eskalasi Konflik
Serangan ini memperburuk kondisi Lebanon yang sebelumnya sudah menghadapi krisis ekonomi dan politik berkepanjangan. Eskalasi serangan juga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Israel sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata tidak mencakup konflik mereka dengan Hizbullah di Lebanon. Sementara itu, Pakistan sebagai mediator menilai bahwa kesepakatan tersebut seharusnya mencakup semua front, termasuk Lebanon, sehingga memicu kebingungan dan ketegangan diplomatik.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Sejak awal Maret, serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 1.530 orang di Lebanon dan memaksa sekitar 1,2 juta warga meninggalkan rumah mereka. Banyak warga kini bertahan di tempat penampungan darurat dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.
Komunitas internasional terus menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan melindungi warga sipil. Namun, konflik di lapangan masih terus berlangsung dan warga sipil tetap menjadi pihak yang paling terdampak.








