Sembilan Negeri Bersatu, Peumeunap dan Seumuleng Disiapkan untuk Generasi Muda

Para zuriat raja dan tokoh adat Nusantara berfoto bersama pada prosesi adat Peumeunap dan Seumuleng di Aceh Jaya.

Sorotmata – Aceh Jaya, Tradisi Peumeunap dan Seumuleng segera memasuki dunia pendidikan. Para tokoh adat dan zuriat kerajaan mendorong warisan budaya leluhur tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis kearifan lokal agar generasi muda terus mengenalnya.

Gagasan itu muncul dalam prosesi adat Peumeunap dan Seumuleng di Kabupaten Aceh Jaya. Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga mempertemukan zuriat raja dan tokoh adat dari berbagai wilayah Aceh serta Nusantara.

Suasana khidmat menyelimuti seluruh rangkaian acara sejak awal hingga akhir. Para peserta mengikuti prosesi dengan penuh penghormatan, sementara para tokoh adat memanfaatkan momentum itu untuk memperkuat komitmen menjaga warisan budaya.

Tradisi yang selama ini hadir sebagai agenda budaya tahunan kini mulai memasuki ruang pendidikan. Para raja dan zuriat kerajaan yang hadir menyatakan dukungan terhadap upaya tersebut.

Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D, hadir bersama Raja Kejeruan Metar Belad Deli YTAM Tuanku Muhammad Fauzi, S.Kom., MH, Tgk. Irwansyah dari Kerajaan Tamiang, Teuku Muhammad Nurdin dari Kerajaan Peureulak, Teuku Badruddin Syah dari Kerajaan Samudra Pasai, Dr. Teuku Rasyidin dari Kerajaan Jeumpa, Teuku Iskandar dari Kerajaan Pedir, Pati Darmuda selaku Penasehat Kesultanan Daya Raja, Teuku Marhaidi dari Kerajaan Teunom, Teuku Razali dari Kerajaan Bu Meulaboh, Teuku Khairizal dan Teuku Rusli dari Kerajaan Seunagan, Teuku Nasruddin dari Kerajaan Tanah Nata, Teuku Amri dari Kerajaan Kuala Batu, serta Sutan Aming Syah dari Kerajaan Sinabang.

Raja Negeri Daya sekaligus Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, Teuku Raja Saifullah DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh adat dan zuriat raja yang datang ke Aceh Jaya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Dato’ Kiam Radja Fekri Juliansyah yang terbang langsung dari Palembang untuk menghadiri kegiatan tersebut.

“Semoga kita terus menjaga adat dan warisan budaya ini agar tetap hidup dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujarnya.

Warisan Budaya yang Mendapat Pengakuan

Dalam kesempatan yang sama, Dato’ Kiam Radja Fekri Juliansyah memuji tradisi Peumeunap dan Seumuleng sebagai warisan budaya yang memiliki nilai tinggi.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bagian penting dari warisan budaya tak benda dan memperkaya khazanah budaya Nusantara.

Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya memasukkan kegiatan itu ke dalam kalender budaya tahunan daerah. Kegiatan tersebut juga berhasil mempertemukan zuriat dari sembilan negeri di Aceh Darussalam. Majelis Adat Aceh (MAA), perwakilan Wali Nanggroe, dan berbagai unsur masyarakat turut mendukung pelaksanaannya.

Masuk ke Dunia Pendidikan

Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., menggagas pengembangan pembelajaran berbasis tradisi lokal. Selain memimpin sekolah, ia juga sedang menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Pendidikan Islam di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Ridwan menjalin komunikasi dengan sejumlah zuriat raja di wilayah Barat Selatan Aceh untuk membahas pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal.

Para tokoh adat menyambut gagasan tersebut dengan antusias. Mereka menyatakan kesiapan untuk mendukung pengenalan sejarah dan budaya lokal melalui jalur pendidikan formal.

Dalam waktu dekat, para pihak akan menyusun Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar kerja sama. Dato’ Kiam Radja Fekri Juliansyah, Teuku Raja Saifullah, Teuku Marhaidi dari Kerajaan Teunom, Teuku Nasruddin dari Kerajaan Tanah Nata, dan Teuku Amri dari Kerajaan Kuala Batu menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut.

Target Mulai Tahun Ajaran 2026-2027

Ridwan menargetkan program Pendidikan Islam berbasis kearifan lokal mulai berjalan pada semester pertama Tahun Pelajaran 2026-2027.

Melalui program itu, siswa akan mempelajari tradisi Peumeunap dan Seumuleng, sejarah kerajaan, adat istiadat, serta nilai-nilai sosial yang tumbuh dalam masyarakat Aceh.

Para zuriat raja akan kembali hadir pada agenda penandatanganan MoU sebelum sekolah menjalankan program tersebut secara resmi.

Kerja sama antara sekolah dan para pemangku adat ini membuka ruang baru bagi pelestarian budaya Aceh. Generasi muda nantinya dapat mengenal tradisi leluhur melalui proses belajar yang berlangsung langsung di lingkungan pendidikan.

Komentar (0)
Belum ada komentar.