Fleksibilitas Jaringan Listrik Jadi Kunci Transisi Energi dan Pertumbuhan Pusat Data AI di Indonesia
Operator juga dapat menaikkan atau menurunkan output pembangkit sesuai kebutuhan jaringan. Kemampuan tersebut membantu sistem merespons perubahan produksi listrik dari PLTS maupun pembangkit energi terbarukan lainnya.
Kondisi Kepulauan Tambah Tantangan
Kondisi geografis Indonesia ikut membuat pengelolaan sistem kelistrikan menjadi lebih rumit. Jaringan listrik Indonesia tersebar di wilayah kepulauan yang sangat luas.
Sebagian wilayah memiliki sistem besar yang memasok pusat industri. Di sisi lain, banyak pulau kecil masih mengandalkan jaringan listrik yang berdiri sendiri.
Perbedaan kondisi tersebut membuat setiap wilayah membutuhkan pendekatan pembangkitan yang berbeda.
Energy Solutions Director PT Wärtsilä Indonesia Febron Siregar mengatakan Indonesia tidak bisa mengukur keberhasilan transisi energi hanya dari jumlah pembangkit energi terbarukan yang dibangun.
“Tahap berikutnya dalam transisi energi Indonesia bukan hanya mengenai seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga seberapa efektif energi tersebut dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan,” kata Febron.
Menurut dia, perencanaan sistem tenaga yang fleksibel sejak awal dapat menekan risiko gangguan ketika porsi energi terbarukan dalam jaringan terus meningkat.
Wärtsilä menunjuk Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai salah satu contoh penerapan sistem fleksibel.
Sebuah pembangkit berkapasitas 135 MW dengan 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF memasok hampir 40 persen kebutuhan listrik Lombok.
Operator menggunakan sebagian kapasitas pembangkit untuk menjaga keseimbangan jaringan. Sistem tersebut juga membantu jaringan Lombok menerima sekitar 20 MW pasokan listrik dari PLTS.
Energi Terbarukan Butuh Sistem Pendukung
Wärtsilä menilai penurunan emisi sektor kelistrikan tidak cukup jika hanya mengganti pembangkit berbahan bakar fosil dengan energi terbarukan.
Sistem tenaga perlu menggabungkan PLTS, pembangkit energi terbarukan lainnya, penyimpanan energi, jaringan transmisi dan pembangkit fleksibel.
Wärtsilä mengembangkan konsep yang menggabungkan berbagai sumber energi tersebut dalam satu sistem tenaga.
Perusahaan juga terus mengembangkan mesin pembangkit agar kelak dapat menggunakan bahan bakar berkelanjutan ketika pasokannya tersedia secara komersial dalam skala besar.
Carron mengatakan keputusan teknologi yang dibuat saat ini akan memengaruhi biaya dan ketahanan sistem tenaga Indonesia dalam jangka panjang.
“Dengan memprioritaskan teknologi yang fleksibel, Indonesia dapat memperkuat keandalan jaringan, mempercepat integrasi energi terbarukan, dan mendukung perjalanan menuju target net-zero,” ujarnya.
Director Decarbonisation Services Wärtsilä Energy Christoffer Ek mengatakan tantangan serupa juga muncul pada sistem kelistrikan di luar jaringan utama atau off-grid.
Menurut dia, PLTS dan baterai saja belum tentu cukup untuk menghasilkan sistem yang andal sekaligus efisien.
“Banyak orang bertanya, apakah keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan dapat dicapai dalam sistem kelistrikan off-grid? Jawabannya, bisa,” katanya.
Namun, sistem tersebut membutuhkan manajemen energi yang mampu mengatur seluruh sumber pembangkitan secara terintegrasi.
Wärtsilä juga menyediakan layanan pengelolaan aset pembangkit. Layanan itu mencakup perjanjian jangka panjang, peningkatan aset, dekarbonisasi, penyediaan suku cadang dan layanan lapangan.
AI dan Pusat Data Dorong Konsumsi Listrik
Pertumbuhan AI, komputasi awan dan layanan digital juga mengubah pola konsumsi listrik.
Pusat data membutuhkan pasokan listrik besar dalam satu lokasi. Sementara itu, tidak semua wilayah memiliki jaringan yang mampu menampung beban tambahan tersebut.
Kondisi ini membuat ketersediaan listrik ikut menentukan kecepatan pembangunan pusat data.
Pengembang pun mulai mempertimbangkan pembangkit listrik di lokasi atau onsite generation, terutama di kawasan dengan kapasitas jaringan yang terbatas.
Wärtsilä melihat peluang tersebut tumbuh di Asia, termasuk Indonesia.
Pengembang pusat data dapat menggunakan pembangkit modular berbasis mesin gas sebagai sumber listrik utama ketika jaringan belum mampu memenuhi kebutuhan. Mereka juga dapat menambah kapasitas secara bertahap seiring pertumbuhan fasilitas.
Ketika jaringan utama sudah mampu memenuhi kebutuhan, operator masih dapat menggunakan pembangkit tersebut sebagai pembangkit penyeimbang atau pembangkit beban puncak.
General Manager Market Development Middle East and Asia Wärtsilä Energy Patrik Farkas mengatakan akses listrik kini menjadi salah satu faktor utama dalam pembangunan pusat data.
“Bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri,” kata Farkas.
Menurut dia, pengembang semakin memperhitungkan infrastruktur energi sejak tahap awal perencanaan investasi.
Pembangkit onsite juga memungkinkan proyek pusat data berjalan meski jaringan di sekitarnya belum mampu menyediakan kapasitas penuh.
Wärtsilä mencatat proyek pusat data yang mereka jual di Amerika Serikat dan Eropa memiliki total kapasitas lebih dari 2,4 GW.
Perusahaan melihat Indonesia, Malaysia, Jepang dan Australia sebagai pasar dengan peluang pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang.



