Sembilan Negeri Bersatu, Peumeunap dan Seumuleng Disiapkan untuk Generasi Muda
Ridwan menjalin komunikasi dengan sejumlah zuriat raja di wilayah Barat Selatan Aceh untuk membahas pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal.
Para tokoh adat menyambut gagasan tersebut dengan antusias. Mereka menyatakan kesiapan untuk mendukung pengenalan sejarah dan budaya lokal melalui jalur pendidikan formal.
Dalam waktu dekat, para pihak akan menyusun Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar kerja sama. Dato’ Kiam Radja Fekri Juliansyah, Teuku Raja Saifullah, Teuku Marhaidi dari Kerajaan Teunom, Teuku Nasruddin dari Kerajaan Tanah Nata, dan Teuku Amri dari Kerajaan Kuala Batu menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut.
Target Mulai Tahun Ajaran 2026-2027
Ridwan menargetkan program Pendidikan Islam berbasis kearifan lokal mulai berjalan pada semester pertama Tahun Pelajaran 2026-2027.
Melalui program itu, siswa akan mempelajari tradisi Peumeunap dan Seumuleng, sejarah kerajaan, adat istiadat, serta nilai-nilai sosial yang tumbuh dalam masyarakat Aceh.
Para zuriat raja akan kembali hadir pada agenda penandatanganan MoU sebelum sekolah menjalankan program tersebut secara resmi.
Kerja sama antara sekolah dan para pemangku adat ini membuka ruang baru bagi pelestarian budaya Aceh. Generasi muda nantinya dapat mengenal tradisi leluhur melalui proses belajar yang berlangsung langsung di lingkungan pendidikan.



